Selasa, 20 Januari 2015

kali ini kucoba torehkan sedikit tentang dia...


Sunset


sebutkan saja satu tema
dia akan merangkai kata demi kata
bahkan mungkin huruf demi huruf awalnya
begitu indah...

tumpah ruah dalam sekejap mata
atau mungkin kupikir lebih cepat dari itu
hingga kamu bingung dari mana asal semua itu

Sunset....
dengan mudah ia menyajikan semampan puisi berisi detak kehidupan
semudah ia menyakinkanku
dengan caranya, ia layak dipertahankan!
itu dia, sejauh ini....*


dari Sunrise :)           

Minggu, 18 Januari 2015

Warna


Asa dan naluri
Alami dan yang berimajinasi
Dunia penuh warna bahkan sajak dan puisi pun demikian

Kau beri arti di setiap goresan
Kau beri makna di setiap kecupan
Entah itu merah yang berani, hitam yang kelam, ataupun putih yang bercahaya
Kalian adalah satu
Tak kupisahkan walaupun beda arti

Aku tahu senyumnya merah dan binar matamu penuh arti
Tapi biarlah imajinasi ini berbicara
Biarlah dia yang menentukan
Artimu, arti dia, arti mereka dalam satu bingkisan
Yang tergores pada putihnya cahaya atau polosnya kertas...


Oswaldus G.R.W. Gening

   "Sunset"               
Dari Sunset

tentang Sunrise....


Efin



Tak ada nada yang bisa kulagukan
Tak ada puisi yang bisa kutuliskan
Rangkaiannya berbeda
Kamu adalah kamu
Aku tak bisa mengartikannya

Waktu yang panjang dan detik yang berlalu
Bagaimana aku menggambarkannya
aku tak tahu

Tapi biarlah waktu yang panjang dan detik yang berlalu
Melukiskannya dengan sendirinya
Agar aku paham
Siapa dirimu....*

Rabu, 14 Januari 2015


14 Januari 2015
01:12 WIB
.........................................................................................................................................................................

SILUET ITU KEMBALI HADIR

 

Malam ini, tetesan bening kembali jatuh,
Yah, kenangan itu

Sunset, ingin kuberbagi..
Tetapi aku tahu terlalu egois jika tega berbagi luka dengan dia yang selalu berusaha menerbitkan senyum bahkan tawaku
Yaaahhh..lelah
Sungguh,,terulang, lagi, dan lagi

Hey kau bayang kelam!
Kau kutantang mulai malam ini
Hadirlah jika ingin
Kali ini aku tak akan lari
Pekatkan saja bayanganmu, gerogoti saja akal ini. Goncangkan saja hati ini.
Tak akan gentar aku pastikan itu
Semakin kau mendekat, langkah ini kan tetap tenang, hingga kau mampu kuranggkul
Kan peluk erat, kian erat hingga perlahan kau memudar dalam pelukanku
Pelukan seorang yang tulus tapi kau khianati,
pelukan jiwa penuh ikhlas yang kini tengah belajar mengikhlaskanmu,
pelukan yang dulu selalu dirindu, yang saat ini telah hambar merasakan arti sebuah pelukan,
pelukan penuh kesungguhan dibalut ratap saat berusaha meyakinkan bahwa kau mampu bertahan dalam masa-masa sulit kita namun malah kau yang menjatuhkan diri,
Pelukan yang kini akan berubah menjadi alasan terakhir
diberikan pada bayang kelam kisah yang kita perjuangkan dulu, untuk perlahan memudar dan menghilang
atau mungkin malah menjadi cermin kelak..

Bayang beribu warna yang kini memudar menyisakan abu-abu pekat
Menghantui, menggerogoti malamku
Saat aku seharusnya menata hati
Saat aku seharusnya memelihara rasaku dengan dia teman hati baru yang Tuhan percayakan..

AKU TAKKAN LAGI LARI!!

Akan kupeluk kau bayang kelam
Sambil tersenyum kan kubisikan perlahan padamu:
“kau bagian kisah hidupku, kau juga jejak-jejak dalam langkahku.
Terima kasih.
Aku ikhlas
AKU KINI BAHAGIA BERSAMA DIA”  *

Sabtu, 17 Mei 2014

Berbisik dalam Diam

Termangu...
entah apa yang dinanti
entah siapa yang ditunggu

hanya mampu menatap
menatap tiap mereka yang datang dan pergi
mereka dengan kesibukan yang 'tak kumengerti

ahh..sore ini, di depan kampus yang sudah 3 tahun kujadikan sungai 'tuk mengail ilmu
3 tahun?? oh yah, 3 tahun sudah

apa yang sudah aku dapatkan?
apa yang dapat ku bawa pulang kelak?
apa yang akan kujadikan alasan jauh-jauh merantau?

mungkin bagi kalian tulisan ini hanya mengundang kerut di kening
maafkan untuk itu
namun ini duniaku, ini jejak yang sedang kucoba torehkan
hanya aku yang tahu

tersenyum...
aku tahu jawaban untuk pertanyan-pertanyaan itu!

akan kujadikan jawaban itu sebagai alasan aku tetap dan terus menggerakkan kaki ini melangkah
melangkah untuk menjadikan alasan itu nyata
nyata untuk dapat aku serahkan untuk mereka
mereka yang sedang setia menanti kepulanganku

kepulanganku sambil menggenggam "sesuatu" yang berguna untuk-Nya, mereka, dia dan diriku... *

Senin, 12 Desember 2011

sepenggal narasi di persimpangan menunggu senja


2011 

                     Kini Dia yang Meninggalkanku                                                

         Deringan itu sekali lagi membangunkanku. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, kutatap weker tua yang tergeletak di atas meja belajar, yang seolah-olah sedang tersenyum mengejek ke arahku. Pukul 06.00 WITA. Arah jarum jam  yang membentuk sebuah garis lintang itu seketika mengingatkanku akan sesuatu. Mencoba fokus, mengingat-ingat dan dengan segenap tenaga yang masih baru di awal pagi ini, kucoba mengumpulkan kembali ingatanku. Setelah merasa nyawa telah sepenuhnya telah menyatu dengan tubuh, bagaikan ditarik aku melompat bangun dari kasur empuk yang membuatku tak tega untuk meninggalkannya sekarang.
Namun harus! Yah! Harus. Untuk inilah aku berani kembali lagi ke kota kecil ini.......          Kamar mandi! Itulah tempat pertama yang muncul dalam benakku. Langsung saja dengan langkah gontai namun pasti aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk melakukan salah satu rutinitas pagiku sebelum meninggalkan kamar.
Segera kubasahi wajah. Dinginnya air pagi itu sedikit menggelitikku. Tanpa memperdulikan hal itu segera aku berganti pakaian, menyisir rambut seadanya, memoleskan sedikit bedak, dan ketika merasa semuanya sudah cukup, kurang dari 15 menit aku sudah berada dalam bis menuju kos Raka. Tempat yang sudah enam bulan tidak lagi kudatangi sejak kepergianku hari itu. Sekilas, kejadian itu kembali hadir membuka lagi kenangan-kenangan bersamanya.
       Begitu masuk ke kamarnya yang tidak terkunci, segera hidungku disambut bau yang tidak sedap. Di depan mata terpampang situasi kamar yang belum pernah kuimpikan untuk  kutemui. Di sudut kamar bertumpuk buku, kertas, dos tak terpakai, dan tebaran buntalan kantong-kantong plastik. Di sebelahnya berserakan beberapa pasang sepatu yang tidak lagi kukenali warna aslinya, diselimuti beberapa kaos kaki bolong yang dikerumuni lalat. Belum lagi di bagian belakang pintu, bergantungan kaos dan kemeja lusuh yang entah berapa lama tidak terkena sabun cuci.            Masih terkesiap dengan keadaan sekelilingku, kualihkan pandangan ke arah sebuah lemari kayu di dekat jendela yang tingginya sedikit lagi dapat mencapai plafon kamar itu. Perlahan kubuka  lemari itu. Deritan pintunya seakan ingin memberitahukan kapan terakhir kali pintu ini dibuka. Begitu mataku telah mampu menyesuaikan dengan keadaan dalam lemari yang gelap itu, satu persatu mulai nampak tumpukan pakaian yang tertata rapi, bak tak pernah dijamah oleh siapapun.
     Aneh! Kesunyian perlahan terasa begitu mencekam. Setelah lebih dari 20 menit berada di tempat itu, aku baru menyadari tidak ada seorangpun yang ada di ruangan itu sejak kehadiranku. Pikiran-pikiran aneh gila mulai menggangguku. Di mana Raka??
    Langkah kaki samar-samar terdengar dari kejauhan. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?". Spontan aku kaget. Hampir saja ponsel terlepas dari genggaman. Ku balikan badan dan ternyata ada orang yang datang. Setelah mengatakan tujuan kedatanganku dan saling memperkenalkan diri, Dion nama orang itu menceritakan kejadian 3 bulan yang lalu. Raka ternyata telah meninggalkan kota ini dengan hanya meninggalkan sebuah pesan singkat bahwa, dirinya akan kembali segera setelah urusannya selesai. Hingga kini belum ada kabar dari Raka, dan tidak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaanya. Anehnya lagi, pemilik kos itu tidak berani menyentuh isi kamarnya sampai mendapat kepastian akan keberadaan Raka.
Kemana??? Urusan apa??? Mengapa?? Kapan ia kembali??
   Setelah merasa tidak ada lagi yang dapat kulakukan, segera setelah berpamitan aku meninggalkan tempat itu. Meninggalkan tempat yang kuharapkan dapat memperbaiki semuanya, atau paling tidak dapat menjawab pertanyaan yang begitu menggerogotiku selama jauh darinya.
  Tetapi yang kubawa pulang hanyalah beribu pertanyaan tak pasti tentang apa yang terjadi pada Raka, orang yang dulu telah aku tinggalkan, dan saat aku kembali malah ia yang kini memilih meninggalkanku....*