14 Januari 2015
01:12 WIB
.........................................................................................................................................................................
SILUET ITU KEMBALI HADIR
Malam ini, tetesan bening kembali jatuh,
Yah, kenangan itu
Sunset, ingin kuberbagi..
Tetapi aku tahu terlalu egois jika tega berbagi luka
dengan dia yang selalu berusaha menerbitkan senyum bahkan tawaku
Yaaahhh..lelah
Sungguh,,terulang, lagi, dan lagi
Hey kau bayang kelam!
Kau kutantang mulai malam ini
Hadirlah jika ingin
Kali ini aku tak akan lari
Pekatkan saja bayanganmu, gerogoti saja akal ini.
Goncangkan saja hati ini.
Tak akan gentar aku pastikan itu
Semakin kau mendekat, langkah ini kan tetap tenang,
hingga kau mampu kuranggkul
Kan peluk erat, kian erat hingga perlahan kau memudar
dalam pelukanku
Pelukan seorang yang tulus tapi kau khianati,
pelukan jiwa penuh ikhlas yang kini tengah belajar
mengikhlaskanmu,
pelukan yang dulu selalu dirindu, yang saat ini telah
hambar merasakan arti sebuah pelukan,
pelukan penuh kesungguhan dibalut ratap saat berusaha
meyakinkan bahwa kau mampu bertahan dalam masa-masa sulit kita namun malah kau
yang menjatuhkan diri,
Pelukan yang kini akan berubah menjadi alasan terakhir
diberikan pada bayang kelam kisah yang kita perjuangkan
dulu, untuk perlahan memudar dan menghilang
atau mungkin malah menjadi cermin kelak..
Bayang beribu warna yang kini memudar menyisakan
abu-abu pekat
Menghantui, menggerogoti malamku
Saat aku seharusnya menata hati
Saat aku seharusnya memelihara rasaku dengan dia teman
hati baru yang Tuhan percayakan..
AKU TAKKAN LAGI LARI!!
Akan kupeluk kau bayang kelam
Sambil tersenyum kan kubisikan perlahan padamu:
“kau bagian kisah hidupku, kau juga jejak-jejak dalam
langkahku.
Terima kasih.
Aku ikhlas
AKU KINI BAHAGIA BERSAMA DIA” *