6 Alasan Kenapa Jarak Perlu Dihadapi Saja. Tak Perlu Mendramatisir Suasana
Nendra Rengganis~Hipwee
Jan 15, 2016
Terkadang saya heran saat kawan-kawan sesama pejuang jarak meributkan tentang perasaan rindu saat tak bisa bertemu. Ketika ruang lapang yang tercipta karena kesibukan dan tanggung jawab jadi bahan drama di postingan sosial media. Saat kenyataan tidak bisa bertemu sementara (sepertinya) jadi masalah terbesar di dunia.
Sebagai seorang pejuang jarak juga, ada beberapa hal tentang jarak yang kadang membuat tertawa. Rindu sudah pasti. Melihat pasangan yang bisa selalu bersama juga kadang menimbulkan rasa ingin di hati. Tapi di akhir hari bukankah ini ‘cuma’ jarak semata?Cuma perlu dihadapi saja. Tak perlulah mendramatisir suasana.
1. Jarak jelas menunda kecup dan peluk. Tapi di situ ada kedekatan lain yang terbentuk
Di situ ada kedekatan lain yang terbentuk
Mereka yang selalu bisa bersama jelas punya kesempatan meluapkan perasaan dengan lebih lega. Bisa saling memandang mata, melingkarkan tangan untuk saling memeluk kapan saja. Sesekali mengecup kening dengan kasual sebagai bukti cinta.
Saat jarak ada di depan mata hal-hal macam ini lebih membutuhkan perencanaan dan proses sebelumnya. Tapi bukan berarti kedekatan akan hilang begitu saja. Dalam proses menunggu telepon dan kabarnya, ketika kamu bertanya dia sudah makan dan sedang apa — ada perhatian yang terbangun di sana. Ada kehangatan hati yang entah dari mana datangnya.
2. Selama komitmen itu ada, apa yang perlu dibesar-besarkan? Toh hubungan ini punya tujuan
Toh hubungan ini punya tujuan
Jarak jelas mengajarkan banyak hal. Satu yang pasti adalah soal komitmen yang tidak bisa hanya dijalani. Tapi juga harus dihargai sepenuh hati. Ketika jarak ada dalam ekuasi hubungan, komitmen sudah harus ada dari jauh-jauh hari.
Kamu jelas tidak bisa bertemu setiap waktu. Suara dan cerita soal kegiatannya jadi satu-satuny acara hati kalian tetap terhubung sedemikian rupa. Tanpa komitmen hubungan ini cuma makan hati saja.
3. Membesar-besarkan jarak sebenarnya makin memperberat beban. Santai saja, selama hubungan ini punya masa depan
Santai saja. Selama hubungan ini punya masa depan
Jarak jelas sudah ada di depan mata. Kalau begitu kenapa tidak dijalani saja dengan apa adanya? Membesar-besarkan masalah dan merasa jadi orang yang paling merana hanya makin memperberat beban di bahu. Sementara masih banyak hal lain yang lebih penting dari sekadar menahan rindu dan tidak bisa bertemu.
Selama hubungan ini punya masa depan sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh kalian berjauhan sementara untuk satu tujuan.
4. Kelak kalian punya seluruh waktu di dunia.Terpisah sementara jadi ruang lapang untuk berkembang sebagai manusia
Harusnya ini membuat kalian berkembang jadi manusia
Kita ini sering membesar-besarkan masalah. Terpisah sementara sudah bertingkah seperti jadi korban hati yang patah. Padahal siapa yang tahu setelah benar-benar hidup bersama nanti kalian tidak akan bosan? Bangun setiap hari dengan menatap mata yang sama, menemukan harum badan yang sama — akan ada masa kalian benar-benar jadi satu sebagai manusia.
Terpisah sementara sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk berkembang dalam sisi hidup yang paling kamu suka. Naik gunung, jalan-jalan ke pelosok Indonesia, sampai memanfaatkan gaji untuk membeli buku dan gundam bebas kamu lakukan sepuasnya. Sebelum nanti berhenti di dia.
5. Jarak menciptakan kemesraan yang beda. Dari sapaan seperlunya, sesekali bertukar pesan suara — di situ ada cinta
Perasaan di tengah jarak selalu berkembang lewat cara yang berbeda. Warna bola mata dan harum parfumnya memang tidak bisa kamu hapal begitu saja. Kadang perlu berjam-jam untuk kembali membayangkan bagaimana rupanya. Bagaimana sensasi hangat dari parfumnya yang kamu dapat setelah memeluknya.
Tapi karena jarak pula muncul kemesraan yang beda. Kamu tidak perlu panjang bercerita saat sudah
lelah sekali dan ingin tidur saja. Kata-kata macam,
“Aku capek. Pengen peluk kamu. Kamu jauh. Jadi aku tidur.”
jadi bukti cinta. Jarak, tanpa disadari menggembleng definisi cintamu jadi jauh lebih sederhana.
6. Jarak ada karena keputusan. Kalian bisa memilih tidak bertahan. Rugi sekali kalau sampai membuat hati jadi pesakitan
Rugi kalau sampai menjadikan diri pesakitan
Jarak ada karena keputusan. Kalian sebenarnya punya hak untuk melanjutkan hubungan atau berpisah setelah jarak ada di hadapan. Jika begini caranya tak seharusnya jarak membuat kalian jadi pesakitan.
Apa yang lebih menyedihkan dari orang yang menyesali keputusan yang dibuatnya sendiri?
Ini cuma jarak. Tak semestinya dia membuat hati berderak.
Jejakku Langkahku
Sekali aku melangkah jejak di belakangku akan tetap ada walau mata 'tak mampu menangkap, karena jejak itu pembentuk beribu langkah di depanku...(LittleBlackStar) *
Jumat, 15 Januari 2016
Selasa, 20 Januari 2015
kali ini kucoba torehkan sedikit tentang dia...
sebutkan saja satu tema
dia akan merangkai kata demi kata
bahkan mungkin huruf demi huruf awalnya
begitu indah...
tumpah ruah dalam sekejap mata
atau mungkin kupikir lebih cepat dari itu
hingga kamu bingung dari mana asal semua itu
Sunset....
dengan mudah ia menyajikan semampan puisi berisi detak kehidupan
semudah ia menyakinkanku
dengan caranya, ia layak dipertahankan!
itu dia, sejauh ini....*
Sunset
dia akan merangkai kata demi kata
bahkan mungkin huruf demi huruf awalnya
begitu indah...
tumpah ruah dalam sekejap mata
atau mungkin kupikir lebih cepat dari itu
hingga kamu bingung dari mana asal semua itu
Sunset....
dengan mudah ia menyajikan semampan puisi berisi detak kehidupan
semudah ia menyakinkanku
dengan caranya, ia layak dipertahankan!
itu dia, sejauh ini....*
dari Sunrise :)
Lokasi: yogyakarta Indonesia
Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
Minggu, 18 Januari 2015
Warna
Asa dan naluri
Alami dan yang berimajinasi
Dunia penuh warna bahkan sajak dan puisi pun demikian
Alami dan yang berimajinasi
Dunia penuh warna bahkan sajak dan puisi pun demikian
Kau beri arti di setiap goresan
Kau beri makna di setiap kecupan
Entah itu merah yang berani, hitam yang kelam, ataupun putih yang bercahaya
Kalian adalah satu
Tak kupisahkan walaupun beda arti
Aku tahu senyumnya merah dan binar matamu penuh arti
Tapi biarlah imajinasi ini berbicara
Biarlah dia yang menentukan
Artimu, arti dia, arti mereka dalam satu bingkisan
Yang tergores pada putihnya cahaya atau polosnya kertas...
Oswaldus G.R.W. Gening
"Sunset"
Lokasi: yogyakarta Indonesia
Kupang City, Kupang City, East Nusa Tenggara, Indonesia
Dari Sunset
tentang Sunrise....
Efin
Tak ada nada yang bisa kulagukan
Tak ada puisi yang bisa kutuliskan
Rangkaiannya berbeda
Kamu adalah kamu
Aku tak bisa mengartikannya
Waktu yang panjang dan detik yang berlalu
Bagaimana aku menggambarkannya
aku tak tahu
Tapi biarlah waktu yang panjang dan detik yang berlalu
Melukiskannya dengan sendirinya
Agar aku paham
Siapa dirimu....*
Lokasi: yogyakarta Indonesia
Kupang City, Kupang City, East Nusa Tenggara, Indonesia
Rabu, 14 Januari 2015
14 Januari 2015
01:12 WIB
.........................................................................................................................................................................
SILUET ITU KEMBALI HADIR
Malam ini, tetesan bening kembali jatuh,
Yah, kenangan itu
Sunset, ingin kuberbagi..
Tetapi aku tahu terlalu egois jika tega berbagi luka
dengan dia yang selalu berusaha menerbitkan senyum bahkan tawaku
Yaaahhh..lelah
Sungguh,,terulang, lagi, dan lagi
Hey kau bayang kelam!
Kau kutantang mulai malam ini
Hadirlah jika ingin
Kali ini aku tak akan lari
Pekatkan saja bayanganmu, gerogoti saja akal ini.
Goncangkan saja hati ini.
Tak akan gentar aku pastikan itu
Semakin kau mendekat, langkah ini kan tetap tenang,
hingga kau mampu kuranggkul
Kan peluk erat, kian erat hingga perlahan kau memudar
dalam pelukanku
Pelukan seorang yang tulus tapi kau khianati,
pelukan jiwa penuh ikhlas yang kini tengah belajar
mengikhlaskanmu,
pelukan yang dulu selalu dirindu, yang saat ini telah
hambar merasakan arti sebuah pelukan,
pelukan penuh kesungguhan dibalut ratap saat berusaha
meyakinkan bahwa kau mampu bertahan dalam masa-masa sulit kita namun malah kau
yang menjatuhkan diri,
Pelukan yang kini akan berubah menjadi alasan terakhir
diberikan pada bayang kelam kisah yang kita perjuangkan
dulu, untuk perlahan memudar dan menghilang
atau mungkin malah menjadi cermin kelak..
Bayang beribu warna yang kini memudar menyisakan
abu-abu pekat
Menghantui, menggerogoti malamku
Saat aku seharusnya menata hati
Saat aku seharusnya memelihara rasaku dengan dia teman
hati baru yang Tuhan percayakan..
AKU TAKKAN LAGI LARI!!
Akan kupeluk kau bayang kelam
Sambil tersenyum kan kubisikan perlahan padamu:
“kau bagian kisah hidupku, kau juga jejak-jejak dalam
langkahku.
Terima kasih.
Aku ikhlas
AKU KINI BAHAGIA BERSAMA DIA” *
Lokasi: yogyakarta Indonesia
Yogyakarta City, Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta, Indonesia
Rabu, 18 Juni 2014
Sabtu, 17 Mei 2014
Berbisik dalam Diam
Termangu...entah apa yang dinanti
entah siapa yang ditunggu
hanya mampu menatap
menatap tiap mereka yang datang dan pergi
mereka dengan kesibukan yang 'tak kumengerti
ahh..sore ini, di depan kampus yang sudah 3 tahun kujadikan sungai 'tuk mengail ilmu
3 tahun?? oh yah, 3 tahun sudah
apa yang sudah aku dapatkan?
apa yang dapat ku bawa pulang kelak?
apa yang akan kujadikan alasan jauh-jauh merantau?
mungkin bagi kalian tulisan ini hanya mengundang kerut di kening
maafkan untuk itu
namun ini duniaku, ini jejak yang sedang kucoba torehkan
hanya aku yang tahu
tersenyum...
aku tahu jawaban untuk pertanyan-pertanyaan itu!
akan kujadikan jawaban itu sebagai alasan aku tetap dan terus menggerakkan kaki ini melangkah
melangkah untuk menjadikan alasan itu nyata
nyata untuk dapat aku serahkan untuk mereka
mereka yang sedang setia menanti kepulanganku
kepulanganku sambil menggenggam "sesuatu" yang berguna untuk-Nya, mereka, dia dan diriku... *
Langganan:
Postingan (Atom)

