Senin, 12 Desember 2011

sepenggal narasi di persimpangan menunggu senja


2011 

                     Kini Dia yang Meninggalkanku                                                

         Deringan itu sekali lagi membangunkanku. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, kutatap weker tua yang tergeletak di atas meja belajar, yang seolah-olah sedang tersenyum mengejek ke arahku. Pukul 06.00 WITA. Arah jarum jam  yang membentuk sebuah garis lintang itu seketika mengingatkanku akan sesuatu. Mencoba fokus, mengingat-ingat dan dengan segenap tenaga yang masih baru di awal pagi ini, kucoba mengumpulkan kembali ingatanku. Setelah merasa nyawa telah sepenuhnya telah menyatu dengan tubuh, bagaikan ditarik aku melompat bangun dari kasur empuk yang membuatku tak tega untuk meninggalkannya sekarang.
Namun harus! Yah! Harus. Untuk inilah aku berani kembali lagi ke kota kecil ini.......          Kamar mandi! Itulah tempat pertama yang muncul dalam benakku. Langsung saja dengan langkah gontai namun pasti aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk melakukan salah satu rutinitas pagiku sebelum meninggalkan kamar.
Segera kubasahi wajah. Dinginnya air pagi itu sedikit menggelitikku. Tanpa memperdulikan hal itu segera aku berganti pakaian, menyisir rambut seadanya, memoleskan sedikit bedak, dan ketika merasa semuanya sudah cukup, kurang dari 15 menit aku sudah berada dalam bis menuju kos Raka. Tempat yang sudah enam bulan tidak lagi kudatangi sejak kepergianku hari itu. Sekilas, kejadian itu kembali hadir membuka lagi kenangan-kenangan bersamanya.
       Begitu masuk ke kamarnya yang tidak terkunci, segera hidungku disambut bau yang tidak sedap. Di depan mata terpampang situasi kamar yang belum pernah kuimpikan untuk  kutemui. Di sudut kamar bertumpuk buku, kertas, dos tak terpakai, dan tebaran buntalan kantong-kantong plastik. Di sebelahnya berserakan beberapa pasang sepatu yang tidak lagi kukenali warna aslinya, diselimuti beberapa kaos kaki bolong yang dikerumuni lalat. Belum lagi di bagian belakang pintu, bergantungan kaos dan kemeja lusuh yang entah berapa lama tidak terkena sabun cuci.            Masih terkesiap dengan keadaan sekelilingku, kualihkan pandangan ke arah sebuah lemari kayu di dekat jendela yang tingginya sedikit lagi dapat mencapai plafon kamar itu. Perlahan kubuka  lemari itu. Deritan pintunya seakan ingin memberitahukan kapan terakhir kali pintu ini dibuka. Begitu mataku telah mampu menyesuaikan dengan keadaan dalam lemari yang gelap itu, satu persatu mulai nampak tumpukan pakaian yang tertata rapi, bak tak pernah dijamah oleh siapapun.
     Aneh! Kesunyian perlahan terasa begitu mencekam. Setelah lebih dari 20 menit berada di tempat itu, aku baru menyadari tidak ada seorangpun yang ada di ruangan itu sejak kehadiranku. Pikiran-pikiran aneh gila mulai menggangguku. Di mana Raka??
    Langkah kaki samar-samar terdengar dari kejauhan. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?". Spontan aku kaget. Hampir saja ponsel terlepas dari genggaman. Ku balikan badan dan ternyata ada orang yang datang. Setelah mengatakan tujuan kedatanganku dan saling memperkenalkan diri, Dion nama orang itu menceritakan kejadian 3 bulan yang lalu. Raka ternyata telah meninggalkan kota ini dengan hanya meninggalkan sebuah pesan singkat bahwa, dirinya akan kembali segera setelah urusannya selesai. Hingga kini belum ada kabar dari Raka, dan tidak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaanya. Anehnya lagi, pemilik kos itu tidak berani menyentuh isi kamarnya sampai mendapat kepastian akan keberadaan Raka.
Kemana??? Urusan apa??? Mengapa?? Kapan ia kembali??
   Setelah merasa tidak ada lagi yang dapat kulakukan, segera setelah berpamitan aku meninggalkan tempat itu. Meninggalkan tempat yang kuharapkan dapat memperbaiki semuanya, atau paling tidak dapat menjawab pertanyaan yang begitu menggerogotiku selama jauh darinya.
  Tetapi yang kubawa pulang hanyalah beribu pertanyaan tak pasti tentang apa yang terjadi pada Raka, orang yang dulu telah aku tinggalkan, dan saat aku kembali malah ia yang kini memilih meninggalkanku....*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar